Ketika RPKAD & Tjakrabirawa Berhadapan, Sosok Satu ini Muncul dan Disegani oleh 2 Pasukan Elit itu

- 1:36:00 PM

Ketika RPKAD & Tjakrabirawa Berhadapan, Sosok Satu ini Muncul dan Disegani oleh 2 Pasukan Elit itu

Kisah yang tak akan mudah terlupakan, mengenai pertemuan dua pasukan khusus dan terjadi hal yang tak diinginkan.

Suatu senja di Jakarta pada 1964. Beberapa prajurit berbaret merah bata tengah jalan-jalan santai di sekitar Lapangan Banteng.

Sementara di sudut yang lain lapangan yang berdekatan dengan Istana Negara itu, sekumpulan lelaki kekar dan berambut cepak tengah tertawa terbahak-bahak sambil pandangan mereka tertuju kepada rombongan kecil para prajurit tersebut.

Merasa mereka tengah diejek, anak-anak muda itu kemudian mendekat. Terjadilah adu mulut.

Karena kata-kata tak menyelesaikan masalah, akhirnya baku hantam pun terjadi. Siapakah sebenarnya mereka?

Para anak-anak muda berbaret merah bata itu tak lain merupakan para prajurit dari Korps Tjakrabirawa.

Itu nama kesatuan elit pengawal Presiden Sukarno yang anasirnya terdiri dari prajurit-prajurit pilihan berbagai kesatuan dan angkatan (termasuk dari KKo AL alias Korps Komando Angkatan Laut, yang merupakan cikal bakal Korps Marinir hari ini).
Ketika RPKAD & Tjakrabirawa Berhadapan, Sosok Satu ini Muncul dan Disegani oleh 2 Pasukan Elit itu
Sementara para lelaki kekar berrambut cepak itu berasal dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), pasukan elit komando Angkatan Darat yang merupakan cikal bakal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sekarang.

Kendati sama-sama ABRI, anak-anak RPKAD dan Tjakrabirawa memang tak pernah akur.

Ada saja soal-soal yang membuat mereka bentrok, mulai soal ejek mengejek hingga rasa kesal karena perlakuan pemerintah yang kesannya lebih “memanjakan” Tjakrabirawa dibanding kesatuan-kesatuan lain termasuk RPKAD.

Sebagai salah satu buktinya, menurut Kosim, seragam Tjakrabirawa jauh lebih bagus dibanding tentara-tentara lain.

Katanya, saking baiknya kualitas seragam Tjakrabirawa hingga kalau air hujan mengenai seragam mereka akan seperti air yang mengenai daun talas.

“Tapi soal baret, lucunya mereka minta dari kita”ujar pensiunan Letnan RPKAD itu.

Kata-kata Kosim memang memang benar adanya. Menurut AKBP Mangil (Komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Tjakrabirawa) pada awal pendirian nya mereka memang meminjam baret dari RPKAD.


Untuk supaya beda dengan empunya, Tjkarabirawa lantas menambah zat pewarna ke baret itu sehingga menjadi merah bata.

Nah, kemiripan warna baret ini sering juga menjadi masalah.

Para Anggota RPKAD berpendapat Tjakrabirawa tidak pantas memakai baret warna merah (yang untuk mendapatkannya saja perlu keringat dan darah dalam suatu seleksi pelatihan para komando yang sangat ketat).

Sebaliknya prajurit Tjakrabirawa pun selalu merasa paling penting karena kedudukannya sebagai pelindung langsung keselamatan Presiden Sukarno.

*

Usai insiden Lapangan Banteng terjadi. Jakarta belum mencapai tengah hari, saat Mayor Benny Moerdani (Komadan Batalyon 1 RPKAD) usai bermain tenis tengah berkendaraan jip menuju pulang ke Asrama Cijantung, Jakarta Timur.

Saat jip-nya melaju di pintu gerbang asrama, tiba-tiba beberapa truk tempur yang dipenuhi prajurit-prajurit RPKAD berpakaian sipil melaju kencang, berpapasan dengan mobilnya.

Sejenak Benny tertegun dan mengamati laju truk sampai menghilang di pertigaan jalan.

Ah, bukan anak-anak Yon 1, biarin aja deh, pikirnya.

Namun niat Benny untuk meneruskan laju kendaraannya masuk asrama terhenti, begitu beberapa saat kemudian seorang petugas piket menghampirinya dalam wajah panik.

“Lapor Pak, anak-anak Yon 2 keluar semua!”, teriak petugas piket itu .

Benny langsung menginjak rem. “Lho, emangnya ada apa?“

“Siap, tidak tahu, Pak. Mereka keluar tanpa izin!”

Sebagai seorang militer yang sudah makan asam garam, Benny langsung berpikir cepat: keluar asrama tanpa ijin sudah melanggar prosedur militer, pasti ada apa-apa.

Lantas tanpa pikir panjang, dia langsung memutar arah jip dan mengikuti konvoi tanpa izin itu dari kejauhan.


Acuan gerakan pasukan tersebut bagi sang Mayor hanya satu: truk paling belakang. Lepas dari Jatinegara, Jakarta Timur, Benny semakin mencium sesuatu yang tidak beres: sepanjang jalan masyarakat terlihat sangat panik, sebagian berlarian, sebagian lagi bergerombol sambil menunjuk-nunjuk ke arah Pasar Senen.

Begitu konvoi berhenti di ujung Jalan Kramat Raya, anak-anak RPKAD berloncatan dan langsung membuat posisi stelling (siap tempur) di sekitar Simpang Lima Senen.

“Ada apa ini?” ujar Benny kepada kumpulan orang yang tengah berkerumun.

“Wah kacau Pak, RPKAD gontok-gontokan dengan KKo”, jawab salah seorang dari kumpulan itu.

Setelah memarkirkan jip-nya, Benny lantas berjalan kaki menembus lalu lalang orang-orang yang berlarian berlawanan arah dengannya.

Begitu sampai di dekat gedung Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), ia melihat seseorang tengah digotong secara terburu-buru.

Guna mendapat informasi seutuhnya, Benny lantas menemui dr. Ben Mboi, salah satu dokter tentara yang dikenal baik olehnya.

“Itu Pak, anak-anak RPKAD berkelahi dengan anak-anak Tjakrabirawa dari unsur KKo,”ujar Ben sambil menyebut juga saat itu di ruangan perawatan tergeletak 3 orang RPKAD dan 10 KKO yang menjadi korban bentrok tersebut.

Baca: Kasus Embung Tebo segera Disidangkan, Ini Majelis Hakimnya

Rupanya, keributan itu merupakan sambungan dari insiden yang terjadi di Lapangan Banteng beberapa hari sebelumnya.

Ketika kedua rombongan pasukan itu bertemu kembali di wilayah Senen, tanpa alasan yang jelas kedua belah pihak saling mengejek dan terjadilah kembali perkelahian massal.

Karena jumlah KKo lebih banyak ( ya wajar saja karena KKo bermarkas di Kwini, dekat Senen) para anggota RPKAD terdesak.

Mereka lantas menghubungi kawan-kawannya di Cijantung.

Benny meninggalkan RSPAD menuju Asrama KKo di Kwini.

Begitu sampai di pintu gerbang asrama pasukan elit Angkatan Laut itu, ia menyaksikan puluhan anggota KKo memakai seragam Tjakrabirawa tengah siap-siap mengokang senjata, sebagian terlihat mengatur posisi tempur masing-masing.

Namun dasar Benny, walau masih berseragam pemain tennis, tanpa ragu-ragu ia tetap melangkah masuk.

Alih-alih disambut hardikan, beberapa prajurit Tjakrabirawa itu malah dengan sigap segera memberi hormat.

Rupanya mereka adalah anggota KKo yang dulu pernah menjadi anak buahnya di palagan Irian Barat.

“Siap Pak, bisa saya bantu?” kata salah satu dari mereka.

”Mana Komandanmu?” jawab Benny singkat.

“Siap Pak, silahkan tunggu….”.

Para anggota KKo yang tidak mengenal Benny, terlihat tegang.

Sebagian saling berbisik dari kejauhan. Mereka heran menyaksikan seorang sipil berpakaian olahraga berani masuk asrama militer yang tengah bersiaga tempur. Tidak sampai dua menit, seorang perwira KKo datang dan langsung menghampiri Benny.

Dialah Mayor Saminu, wong Solo yang juga sudah lama mengenal Benny.

“Piye iki? Kok, malah dadi ngene kabeh, Ben?” serunya

“Yo wis-lah, sing penting sekarang jaga pasukanmu agar jangan keluar asrama.

Saya akan tertibkan anak-anak. Kalau kamu diserang, yaaa …Sudah silahkan, mau ditembak atau apa, terserah saja.

Tapi saya minta jangan ada anggotamu keluar asrama.” Jawab Benny.

“Yo, wis beres,” jawab Saminu sambil terus membuat perintah-perintah kepada para bawahannya.

Sementara itu, menyaksikan komandannya ada di dalam lingkungan Asrama Kwini, isu segera menyebar di kalangan anak-anak RPKAD.

Beberapa berteriak: “Pak Benny ditangkap! Pak Benny ditangkap KKo!”

Sontak mereka lantas segera berebutan menuju Asrama Perawat Putri RSPAD yang ada persis di samping Asrama Kwini: mendudukinya dan langsung membuat formasi tempur.

Di lantai atas asrama perawat tersebut, terlihat seorang prajurit RPKAD sudah mengarahkan sepucuk Bazooka ke Asrama KKo.

Suasana hening menyelimuti kawasan Senen dan Kwini.

Tak ada satupun orang-orang sipil yang berani lewat wilayah tersebut.

Mobil-mbil memilih memutar kembali, dari balik toko-toko sekitar Senen yang sebagian segera ditutup, orang-orang menahan nafas, membayangkan lingkungan mereka sebentar lagi akan menjadi ajang berseliwerannya peluru tajam.

Sementara itu, sambil menunggu datangnya perintah tembak, para anggota RPKAD sudah siap-siap menyerbu Asrama Kwini. Alih-alih muncul perintah menyerbu, yang ada malah mereka mendengar teriakan galak Benny: “Sudah! Sudah! Pulang kalian semua!” ujar Benny yang tiba-tiba muncul dari arah pintu gerbang Asrama Kwini.

Sambil mengibas-ngibaskan tangannya, Benny memerintahkan semua anggota RPKAD yang tengah stelling tersebut untuk mundur dari wilayah sekeliling Kwini.

Mendengar teriakan komandan mereka, para prajurit komando berpakaian sipil itu menurut.

Namun ada beberapa dari mereka yang terlihat “agak tidak terima” untuk mundur.

Nah prajurit-prajurit ini yang tubuhnya kemudian didorong oleh Benny dan dengan tegas diperintahkannya untuk naik ke atas truk masing-masing dan pulang kembali ke asrama mereka di Cijantung.

Untung ada Benny! Jika tidak, Senen pasti berubah menjadi seperti Damaskus hari ini.

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Ketika RPKAD & Tjakrabirawa Berhadapan, Sosok Satu ini Muncul dan Disegani oleh 2 Pasukan Elit itu, http://jambi.tribunnews.com/2018/08/03/ketika-rpkad-tjakrabirawa-berhadapan-sosok-satu-ini-muncul-dan-disegani-oleh-2-pasukan-elit-itu?page=all.

Editor: ekoprasetyo
Advertisement

Berkomentarlah Dengan Bijak
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search