Kronologi Penembakan Mobil Satu Keluarga oleh Polisi di Lubuklinggau

- 8:00:00 AM
Kronologi Penembakan Mobil Satu Keluarga oleh Polisi di Lubuklinggau

BENGKULU, KOMPAS.com - Kapolres Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan, AKBP Hajat Mabrur menjelaskan, penembakan satu keluarga yang menewaskan Surani (55), warga Desa Blitar, Kecamatan Sindang Kelingi, Provinsi Bengkulu, berawal dari kegiatan razia kendaraan yang dilakukan jajarannya.

Kepada Kompas.com, Kapolres menjelaskan, kegiatan razia kendaraan bermotor dilakukan awalnya berjalan normal dan lancar. Tiba-tiba melintas satu mobil sedan ke lokasi razia.

"Saat dicoba dihentikan anggota polisi, pengemudi mobil justru hendak menabrak anggota polisi dan melarikan diri," jelas Kapolres.

Kronologi Penembakan Mobil Satu Keluarga oleh Polisi di Lubuklinggau
Aksi kejar-kejaran antara polisi dan pengemudi mobil sedan berlangsung sepanjang dua kilometer. Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan ke udara, namun tak digubris.

"Polisi menembak ban mobil, dan peluru memantul (rekoset) ke badan mobil hingga mengenai penumpang di dalam mobil," jelasnya.

Peristiwa ini membuat gempar warga Kota Lubuklinggau dan Kota Bengkulu. Saat ini, kata Kapolres, pihaknya sedang memeriksa satu orang anggotanya yang terlibat dalam penembakan tersebut.

"Penembakan itu dilakukan karena mobil melarikan diri dari razia, polisi telah memberikan tembakan peringatan tapi tidak digubris," katanya.

Sebelumnya, satu rombongan keluarga yang sedang melintas dengan mobil Honda City berwarna hitam BG 1488 ON ditembaki, Selasa (18/4/2017) sekitar pukul 11.00 WIB.

Rombongan yang terdiri dari seorang ibu, anak-anak dan cucu-cucu dengan total tujuh orang ini ditembaki saat melintas di Kota Lubuklinggau. Akibat peristiwa ini, satu orang, yaitu Surini (55) meninggal dunia karena luka tembakan di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara itu, beberapa anaknya mengalami luka tembak, Diki (29) di bagian punggung, Indra (32) di tangan bagian kiri, Novianti (31) di lengan sebelah kanan dan Dewi Arlina (35) di lengan sebelah kiri.

Cucu Surini, Genta Wicaksono (3) mengalami luka di atas telinga sebelah kiri karena diduga terserempet peluru.

Seorang anak lainnya, Galih (6), tidak mengalami luka. Rombongan keluarga ini berasal dari Desa Blitar, Kecamatan Sindang Beliti, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

Sumber : Kompas.
Advertisement

5 comments

avatar

Jadi polisi nembak ban mantul tekena penumpang ada di lengan bahu dan lain lain. Itu nembak apa menembaki??

avatar

wkwkwkwkw konyol penjelasannya...rikoset tidak seperti itu bos wkwkwkwk

avatar

Alesannya peluru memantul ... alesan bloon ..
Bingung kali gmn cara buang peluru ..
Makin ga respeck deh gw sama polantas ..

avatar

Tetep aja polisi yang salah.. mau ngomong apa kek.. polisi kok makin arogan y.. kyknya harus di balikin lagi ke dalam tubuh TNI biar makin bener.. Shame on u.. ini yang namanya mengayomi masyarakat.. pake alasan peluru memantul.. makin g respect

avatar

Dikira rakyat bodoh apa... pak pak... mau berapa peluru mantul kedalam mobil lo kira karambol..., ketahuan ente bisa nya nembak dari deket kaki orang.. bisa jadi efek perut buncit tuh gak bisa bedain mana ban mana badan orang.

Berkomentarlah Dengan Bijak
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search