Kisah Legimin Salah Satu Pejuang Trikora Yang Di Tangkap Di Zaman Suharto Dipukuli dalam Penjara

- 8:21:00 AM
Kisah Legimin Salah Satu Pejuang Trikora Yang Di Tangkap Di Zaman Suharto Dipukuli dalam Penjara

Jakarta - Ini adalah cerita Legimin (74) seseorang yang mengalami kekerasan pada masa Orde Baru. Legimin menceritakan bagaimana dirinya ikut berjuang di akhir masa pemerintahan Presiden Sukarno.

Kisah Legimin Salah Satu Pejuang Trikora Yang Di Tangkap Di Zaman Suharto Dipukuli dalam Penjara

Legimin ialah salah seorang yang ikut berangkat ke Papua pada saat operasi Tri Komando Rakyat (Trikora). Operasi ini dicetuskan Presiden Sukarno untuk menggabungkan Irian (sekarang Papua, -red) bagian Barat dengan Indonesia.

Legimin tergabung dengan Angkutan Daerah Militer (Angdam) Kodam V Jayakarta. Ia menjadi pegawai negeri sipil yang bertugas mengakomodir truk se-Jakarta yang akan diberangkatkan ke Irian Barat.

"Saya mulai berkecimpung di dunia pekerja waktu Trikora. Gabung dengan Angdam, saya di sana sejak tahun 1961 sampai 1962," ujar Legimin di LBH Jakarta, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (4/9/2016).

Legimin bekerja sebagai juru bayar. Sebelum berangkat, ia koordinir truk-truk di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Sebab, dahulu Angdam berkantor di gedung yang kini menjadi kantor pos di Lapangan Banteng.

Namun, ketika di Irian Barat, Legimin mengaku turut ikut operasi saat hari mulai gelap. Legimin mengatakan, saat menjadi anggota operasi, ia sudah merasakan ada persaingan yang ketat di dalam tubuh TNI Angkatan Darat.

Persaingan ini berasal dari dua kelompok tentara yang berasal dari satuan yang berbeda. Kedua kelompok yang dimaksud ialah tentara yang berasal dari Pembela Tanah Air (PETA) dan Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL).

PETA merupakan kelompok tentara yang dibuat oleh pemerintahan Jepang. Sementara KNIL adalah kelompok tentara yang dibuat oleh pemerintahan Belanda. Presiden kedua RI Soeharto dan AH Nasution ialah jebolan KNIL.

Sebagaimana diketahui, setelah Indonesia merdeka, para tentara dari dua kelompok ini ada yang kemudian bergabung dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Legimin mengatakan bahwa dalam Operasi Trikora sudah terasa persaingan antara kedua kelompok ini.

"Di dalam pemerintahan muncul persaingan di antaranya di dalam AD antara kelompok PETA dan KNIL. Persaingannya sangat keras," ujar Legimin.

"Ternyata ada permainan menjegal kekuasaan Sukarno sejak saat (Trikora) itu. Karena harapan menumbangkan Sukarno oleh AH Nasution tidak berhasil. Sehingga Soeharto yang akhirnya berhasil menumbangkan Sukarno di tahun 1965," tambah Legimin.

Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom

AH Nasution pada saat itu menjabat sebagai panglima TNI. Sementara Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Mandala. Dengan pangkat Mayor Jenderal, ia ditunjuk Sukarno sebagai Panglima Operasi Trikora.

Operasi ini akhirnya selesai pada 15 Agustus 1962 setelah adanya penandatanganan Perjanjian New York antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Per 1 Oktober 1962, PBB melalui (United Nations Temporary Execative Authority) memegang masa transisi. Karena Belanda sudah harus angkat kaki dari Irian Barat.

Saat itu juga Legimin selesai mengikuti Operasi Trikora. Menurutnya, perlawanan terhadap bangsa asing sudah selesai. Dan ia juga mulai mencari pekerjaan lainnya. Ia menjadi pegawai bank.

"Setelah Papua jatuh ke UNTEA, saya selesai. Karena perjuangan lawan bangsa lain sudah selesai. Kemudian saya kerja di bank tapi tetap mengikuti pemberitaan soal pemerintahan di zaman Sukarno," ujar Legimin.

Kondisi semakin menegang ketika Sukarno mengangkat Ahmad Yani sebagai Panglima TNI menggantikan AH Nasution. Suharto sempat merasa sakit hati. Namun akhirnya Suharto diberikan jabatan sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

"Kostrad punya 32 batalyon tempur. Sehingga Suharto cukup kuat untuk menggempur," kata Legimin.

Isu adanya dewan jenderal tetap dihadapi tenang oleh Ahmad Yani. Hingga kemudian akhirnya terjadi peristiwa G30S. Legimin yang bekerja di bank, ikut ditangkap. Dari sini ia mulai merasakan kekerasan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru.

"Dalam peristiwa G30S, saya masih kerja di kantor. Jadi kalau saya ditangkap karena dianggap terlibat, itu ngawur. Latihan militer memang di mana-mana terjadi. Tapi bukan seperti peristiwa di Lubang Buaya. Setiap yang ditahan harus menyatakan terlibat dalam tragedi di LB, dan harus diarahkan perannya dalam kejadian itu," cerita Legimin.

"Saya ditahan di Kodim Jatinegara, saya merasakan ini kelompok Cakrawibawa. Di dalam sana sudah berjalan penyiksaan. Saya bangun sudah bersimbah darah. Dalam waktu itu, situasinya buat saya sudah selesai untuk penyiksaan. Saya sudah pasrah," kata Legimin.

Setelah itu ia bersama yang lain dipindahkan ke penjara Salemba. Legimin cerita, siapa pun yang keluar dari hasil pemeriksaan badannya lebam. Entah kena pukulan, disetrum, kukunya dicopot, disabet buntut pari. Ada juga yang mati setelah mengalami penyiksaan di sana.

Di Salemba, Legimin menemukan pensil berukuran 4 cm. Dalam keadaan menganggur, pensil itu ia pakai untuk belajar bahasa Prancis dan Inggris. Ia juga pakai untuk akupuntur di dalam sana.

Satu ketika, pensil itu dipinjam oleh temannya buat menulis surat ke Kodam Kalimantan. Pensil itu ketangkap oleh petugas. Temannya bilang dapat dari teman yang belajar bahasa Inggris, yaitu dirinya. Ia pun dihadapi seorang berpangkat letnan.

"Akhirnya saya akui, bahwa itu pensil saya dapat dari tumpukan batu merah. Dari jawaban itu, 3 teman dapat pukulan tongkat. Giliran pukulan kedua, jatuh ke kepala teman saya, tongkatnya patah, patahannya merobek kepala. Bajunya letnan bersimbah darah. Letnan itu ketakutan, akhirnya kita dikembalikan ke sel. Itu 3,5 tahun di sana. 19 Juli 1969 diberangkatkan dari Salemba ke Nusakambangan," urai Legimin.

Sampai di Nusakambangan, pengawasan tentara sangat ketat. Selama 40 hari ia berada di Karang Tengah. Ia merasakan pengalaman kelaparan yang sangat.

"Bicara makan, memang selalu kelaparan. Salah satu teman kami yang habis mandi di laut, lewat kebun yang banyak singkong. Dia ambil dan makan singkong itu tapi ketahuan sipir. Akhirnya babak belur tidak karuan," katanya.

Setelah itu ia kembali dipindahkan ke Pulau Buru. Ia diangkut bersama 500 tapol lain menggunakan kapal yang lantainya belepotan kotoran sapi yang masih basah. Dalam perjalanan yang luar biasa, ia sempat berpikir akan ditenggelamkan bersama kapal.

"Begitu kapal keluar dari Nusakambangan ke Samudera Hindia, itu ombak luar biasa. Banyak yang muntah. Perjalanan kapal pelan, menuju Pulau Buru 11 hari. Sampai di Pulau Banda, dek kapal kebakaran. Kabarnya begitu. Dari sejak di Jakarta, pengertian saya, kapan saya dapat giliran dibunuh. Akan dibunuh di mana? Bahkan di tengah laut, kita pikir kita akan ditenggelamkan di kapal ini," ucapnya.

Setelah api padam, kapal singgah dulu di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Perjalanan dilanjutkan ke Pulau Buru selama 4 hari. Begitu mendarat, tiap 5 meter sudah tentara bersenjata semua dari Kodam Pattimura.

"Semua dianggap gerpol. Nanti ketemu di hutan Kayu Gede. Menuju unit di tempat kami jaraknya 8-10 Km. Di situlah kami disuruh bikin barak sendiri. Di sana cari kayu untuk atap, dinding. Setiap barak 6 x 11 meter, isinya 100 orang. Keluar dari barak, sangat dicurigai. Tak ada kebebasan bergerak," ungkapnya.

Di Pulau Buru, Legimin bersama yang lain berbagi pengetahuan. Ia melanjutkan pelajaran bahasa dan akupuntur. Ilmu akupuntur ini menjadi modal hidupnya hingga kini. Tak sedikit dokter yang belajar padanya meski kemudian dokter itu menggunakan ilmunya untuk akupuntur kecantikan.

Ilmu ini sampai sekarang banyak orang minta tolong yang pengin punya keturunan, sakit stroke juga demam berdarah. Dokter yang belajar akupuntur, akhirnya menuju akupuntur kecantikan. Di akupuntur ada rumusnya. Jadi kesembuhannya alami, sembuh akupuntur maka sembuh holistik," kata Legimin.

Selama di Pulau Buru, Legimin kekerasan juga masih terjadi. Legimin anggap kekerasan ini komedi sekaligus tragedi. Beberapa kekerasan yang dilakukan aparat menurutnya tidak masuk logika.

"Di sana juga ada peristiwa lucu, membuat sawah dalam puluhan hektar. Kalau kita buat petakan segitiga, kita digebuki. Karena masih dianggap ingat Trisakti," kata Legimin.

"Melihat kita, cara orang Jawa bertani di sana, juga disalahkan. Kami tanam padi dipersalahkan. Masalahnya mereka tidak mengerti sama sekali cara bertani orang Jawa, dan mereka memakan sagu. Istilahnya, kerja benar kok disalahi. Banyak kekerasan tapi lucu. Badan kita sakit tapi tertawa. Kok bangsa kita masih begitu ya? Di badan sakit, tapi terobati hati yang geli," tambahnya.
(bag/bag)

Sumber : Detik
Advertisement

Berkomentarlah Dengan Bijak
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search