Tugas Makalah AIK Pengertian Islam, Sumber Ajaran Islam lengkap

- 3:27:00 PM
Download Makalah AIK Pengertian Islam, dan Sumber Ajaran ISLAM Al Quran Dan Al Hadist - Naon Wae News -

KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan limpahan Rahmat-NYA lah maka saya bisa menyelesaikan sebuah makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah, yang menurut saya dapat memberikan  manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari tentang Al-Islam dan Kemuhamadiyaha.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh  rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.



Kuningan,      Maret  2016




Penulis



Tugas Makalah AIK Pengertian Islam, Sumber Ajaran Islam lengkap dengan Kata Pengantar Daftar ISI Dan Penutup



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2

BAB II PEMBAHASAN

  • Kenapa agama islam disyariatkan oleh Allah? 3
  • Sebutkan salah satu ayat Al-Quran yang menyatakan  bahwa islam agama yang dibawa para Rosul ! 4
  • Kenapa agama islam terdiri dari aqidah dan syariah ? 5
  • Jelaskan cara penyerahan diri kepada Allah ? 6
  • Jelaskan definisi Islam, Iman dan Ihsan ! 7
  • Jelaskan hubungan antara Islam,  Iman dan Ihsan ? 8
  • Jelaskan keumuman dan kekhususan dari Islam, Iman danIhsan ? 8
  • Sebutkan syarat-syarat diterimanya syahadatain ! 9
  • Jelaskan konsekuensi syahadatain ! 10
  • Jelaskan definisi perserikatan Muhamadiyah ! 11
  • Jelaskan dasar-dasar gerakan Muhamadiyah ! 11
  • Jelaskan kaidah-kaidah Muhamadiyah dalam menetapkan hukum ! 12
  • Jelaskan etika bermuhamadiyah ! 12
  • Jelaskan sistem nilai dan norma yang hidup dan berkembang dalam Muhamadiyah ! 13
  • Jelaskan tentang  kondisi Muhamadiyah ? 13
  • Jelaskan fungsi dari etika bermuhamadiyah ! 14
  • Sebutkan langkah-langkah peneguhan etika bermuhamadiyah ! 14


BAB III PENUTUP
Kesimpulan 15
Saran 15




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna agama-agama terdahulu yang dibawa oleh Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. karena dipandang sudah tidak relevan dengan kondisi sosial masyarakat pada saat itu. Kemudian Islam datang sebagai agama rahmatal lil ’alamin yang dapat bertahan sampai akhir zaman. Secara umum, Islam dipandang sebagai sebuah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.dengan kitab sucinya Al-Qu’an untuk menunjukkan umatnya ke jalan yang lurus.
Makalah ini disusun untuk membahas mengenai pengertian Islam, sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an, Al-Hadist dan Ijma’. Bisa dibayangkan jika manusia di dunia ini tanpa mempunyai suatu agama dan kitab sucinya sebagai pedoman hidup, tentunya kemungkaran disana-sini akan terjadi, sudah mempunyai agamapun kemungkaran sering terjadi di muka bumi ini. Siapa yang salah, agama atau manusianya ?
Secara etimologis Islam berasal dari kata aslama yang berarti ”menyerahkan diri” ada pula aslama mengandung pengertian ”menyerahkan diri dengan penuh ketulusan hati” atau dengan kata lain ”mengikhlaskan”.




B. Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
  1. Kenapa agama islam disyariatkan oleh Allah?
  2. Sebutkan salah satu ayat Al-Quran yang menyatakan  bahwa islam agama yang dibawa para Rosul !
  3. Kenapa agama islam terdiri dari aqidah dan syariah ?
  4. Jelaskan cara penyerahan diri kepada Allah ?
  5. Jelaskan definisi Islam, Iman dan Ihsan !
  6. Jelaskan hubungan antara Islam,  Iman dan Ihsan ?
  7. Jelaskan keumuman dan kekhususan dari Islam, Iman danIhsan ?
  8. Sebutkan syarat-syarat diterimanya syahadatain !
  9. Jelaskan konsekuensi syahadatain 1
  10. Jelaskan definisi perserikatan Muhamadiyah !
  11. Jelaskan dasar-dasar gerakan Muhamadiyah !
  12. Jelaskan kaidah-kaidah Muhamadiyah dalam menetapkan hukum !
  13. Jelaskan etika bermuhamadiyah !
  14. Jelaskan sistem nilai dan norma yang hidup dan berkembang dalam Muhamadiyah !
  15. Jelaskan tentang  kondisi Muhamadiyah ?
  16. Jelaskan fungsi dari etika bermuhamadiyah !
  17. Sebutkan langkah-langkah peneguhan etika bermuhamadiyah ! 


pengertian agama islam dan sumber ajaran islam
Makalah Lengkap Tentang pengertian agama islam dan sumber ajaran islam




BAB II
PEMBAHASAN

1. Kenapa Agama Islam Disyariatkan Oleh Allah?
Agama Islam yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang maha tinggi serta hikmah dan ketentuan hukum-Nya yang maha agung, adalah agama yang sempurna aturan syariatnya dalam menjamin kemaslahatan bagi umat Islam serta membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu” (QS. Al Maaidah:3).
Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat/anugerah Allah Ta’ala yang terbesar bagi umat Islam, karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini bagi mereka, sehingga mereka tidak butuh kepada agama selain Islam, juga tidak kepada nabi selain nabi mereka (nabi Muhammad)shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itulah, Allah Ta’ala menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau kepada (seluruh umat) manusia dan jin, maka tidak sesuatu yang halal kecuali yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan (dengan wahyu dari Allah Ta’ala), tidak ada sesuatu yang haram kecuali yang beliau haramkan, dan tidak ada agama kecuali yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan. Dan segala sesuatu yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan adalah benar dan jujur, tidak ada kedustaan dan kebohongan padanya, Allah Ta’ala berfirman,

{وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’aam:115). Yaitu: (kalimat) yang benar dalam semua beritanya serta adil dalam segala perintah dan larangannya.

Maka ketika Allah telah menyempurnakan agama Islam bagi umat ini, maka (ini berarti) nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada mereka telah sempurna. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),  “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu”. Artinya: Terimalah dengan ridha agama (Islam) ini bagi dirimu, karena inilah (satu-satunya) agama yang dicintai dan diridhai-Nya, dan dengannya dia mengutus (kepadamu) rasul-Nya yang paling mulia (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan menurunkan kitab-Nya yang paling agung (al-Qur’an)”[1].

2. Sebutkan Salah Satu Ayat Al-Quran Yang Menyatakan  Bahwa Islam Agama Yang Dibawa Para Rosul !
Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Dimulai dari Nabi Adam a.s. dan hingga Nabi Muhammad saw. menjadi penutup seluruh risalah. Allah swt. menegaskan hal ini melalui lisan para nabi. Misalnya dari lisan Nabi Nuh a.s. sendiri kita mendapat informasi bahwa Allah menyuruhnya menjadi muslim. “… dan aku disuruh supaya tergolong menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).” (Yunus: 72)

Islam Agama Para Nabi dan Rasul
Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Dimulai dari Nabi Adam a.s. dan Nabi Muhammad saw. menjadi penutup seluruh risalah. Allah swt. menegaskan hal ini melalui lisan para nabi. Misalnya dari lisan Nabi Nuh a.s. sendiri kita mendapat informasi bahwa Allah menyuruhnya menjadi muslim. “… dan aku disuruh supaya tergolong menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).” (Yunus: 72)

Hal yang sama juga keluar dari lisan Nabi Ibrahim dan Isma’il. “Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Mu (muslim)….” (Al-Baqarah: 128). Dan, agama Islam-lah yang diwasiatkan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaaan tetap memeluk agama Islam.” (Al-Baqarah: 132). Nabi Musa a.s. pun menekankan hal yang sama kepada para pengikutnya. “… maka hendaklah hanya kepada-Nya kamu bertawakal jika kamu benar-benar muslim (orang yang berserah diri kepada-Nya).” Karena itu tak heran jika Nabi Yusuf a.s. sangat berharap mati dalam keadaan Islam. “… wafatkanlah aku sebagai seorang muslim, dan gabungkan aku bersama orang-orang yang shalih.” (Yusuf: 10). Itu juga yang diminta diminta para ahli sihir Fir’aun yang bertaubat dan beriman kepada Allah saat kalah melawan Musa a.s. lalu dihukum salib oleh Fir’aun. “Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam (berserah diri sepenuhnya kepada-Mu).” (Al-A’raf: 126).


3. Kenapa Agama Islam Terdiri Dari Aqidah Dan Syariah ?
Allah Ta’ala mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk membimibng umat manusia agar senantiasa dalam fitrahnya yaitu mentauhidkan Allah Ta’ala. Ajaran-ajaran yang disampaikan para nabi seluruhnya berasal dari Allah Ta’ala. Dia-lah yang berkuasa menetapkan dan merubah rincian hukum yang harus dijalankan hamba-hamba-Nya.
Ajaran agama Islam yang diusung para nabi, ada yang sama dan adapula yang berbeda. Ajaran yang sama dan tidak berbeda yaitu terkait prinsip-prinsip dasar akidah, sedangkan ajaran yang berbeda yaitu terkait rincian praktek ibadah kepada Allah Ta’ala yaitu dalam masalah syariat-Nya.[1]
Ditinjau dari segi bahasa, akidah berasal dari kata al-Aqd (العقد) yang berarti ikatan, memintal, menetapkan, menguatkan, mengikat dengan kuat, berpegang teguh, yang dikuatkan, meneguhkan, dan yakin. Adapun makna akidah secara umum, mencakup di dalamnya akidah Islam dan akidah di luar Islam yang menyimpang yaitu hal-hal yang wajib dibenarkan oleh hati, dan jiwa merasa tentram kepadanya, sehingga menjadi keyakinan kukuh yang tidak tercampur oleh keraguan.[2]
Makna akidah di atas mencakup segala bentuk akidah yang diyakini oleh umat manusia. Termasuk di antaranya praktek-praktek kesyirikan seperti pesugihan, sesajen, tumbal, ruwatan, ngalap berkah kotoran kerbau Kiayi Slamet dan praktek kesyirikan lainnya. Para pelaku kesyirikan tersebut didorong oleh keyakinan bahwa hal itu bisa mendatangkan manfaat dan menangkal mudharat.
Adapun yang dimaksud dengan akidah islamiyah yang dianut dan didakwahkan oleh Rasulallah S.A.W. adalah:

الإيمان الجازم بالله تعالى -وما يجب له من التوحيد والطاعة- و بملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر
 وسائر ماثبت من أمور الغيب والأخبار والقطعيات عملية كانت أو علمية

Keyakinan kuat kapada Allah Ta’ala - dan apa-apa yang mewajibkan kepada-Nya dari tauhid dan ketaatan - kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, takdir dan perkara-pekara ghaib lainnya, serta kabar-kabar qath’i, baik amaliyah maupun ilmiyah.[3]
Definisi ini, memberikan gambaran bahwa inti materi akidah adalah tauhid, dan ini merupakan prinsip dasar akidah yang didakwahkan oleh para Nabi dan Rasul.



4. Jelaskan Cara Penyerahan Diri Kepada Allah ?
Bila bekerjaya, tidak semestinya tiada langsung istilah ibadah dalam kehidupan kita sehari-harian sebagai pekerja, majikan, tuan, pengurus, kerani dan sebagainya dalam kehidupan kerjaya kita. Siapa kata Pekerjaan itu bukan ibadah? Kerja juga adalah satu bentuk ibadah, tidak kira anda bekerja sebagai jurutera, doktor, peguam, pegawai kerajaan, kerani, pemandu, pekerja kilang hatta tukang kebun sekalipun itu semua adalah ibadah yang merupakan suruhan dan tuntutan Allah swt. Ini kerana pekerjaan juga adalah satu bentuk tanggungjawab dan peranan kita dalam menyumbang dari segi tenaga, idea, buah fikiran, masa dan sebagainya. Penulis ingin memetik satu kisah Imam Ghazali yang bertanyakan kepada anak-anak muridnya. Banyak yang ditanya, dan salah satu di antaranya adalah berkisarkan amanah. “Wahai anak-anak muridku sekalian, apakah yang paling berat di dalam dunia ini? Ada anak muridnya menjawab Gajah, Dinosaur, Gunung, bukit dan sebagainya. Imam Ghazali menjawab: Benar semua anak-anakku, kalian tidak salah sama sekali. Namun kalian harus sentiasa ingat, yang paling berat adalah amanah”.

Jika kita kaji dan selidiki maksud tersebut amanah ini bukan sahaja meliputi kepercayaan dalam menyimpan rahsia, aib, cerita orang dan sebagainya, namun juga tertumpu di dalam aspek pekerjaan yang juga merupakan satu bentuk ibadah. Bila digabungkan pekerjaan yang kita lakukan adalah amanah yang dipertanggungjawabkan oleh majikan kepada kita. Bukan mudah memikul amanah dan tanggungjawab sebagai pekerja dan tidak susah untuk kita menjaga andai kena dan betul cara-cara dan panduannya. Seorang pekerja yang amanah lebih disayangi dan disenangi oleh majikan dan rakan-rakan sekerja berbanding pekerja yang kurang menjaga amanah. Amanah di dalam konteks pekerjaan bukan hanya tertumpu kepada aspek rahsia syarikat, strategi pemasaran dan objektif syarikat, cara persaingan syarikat dan sebagainya, namun ia juga tertumpu kepada aspek-aspek individu itu sebagai seorang pekerja itu sendiri daripada segi aspek pengurusan masa, etika kerja, pergaulan antara rakan-rakan sekerja dan majikan, aspek tingkah laku dan keperibadian sebagai seorang pekerja dan sebagainya. Jika kita meneliti aspek-aspek tersebut seorang pekerja yang amanah tidak akan culas dalam membuat kerja, tidak akan mengular ketika dalam waktu kerja, tidak akan melakukan kerja lain di luar bidang yang ditugaskan oleh majikan dan syarikat kepadanya, dan sentiasa akan menjaga etika-etika dan tatasusila sebagai seorang pekerja. Jika diperincikan lagi, banyak lagi sub-aspek yang boleh dipertimbangkan dalam konteks amanah dalam pekerjaan seperti patuh undang-undang dan polisi syarikat, mematuhi segala arahan dan suruhan yang dipertanggungjawabkan, etika pemakaian korporat mengikut bidang kerja dan sebagainya. Semua ini merupakan amanah yang patut dipikul sebagai seorang pekerja.

Apa pula amanah yang dipertanggungjawabkan kepada kita sebagai Hamba Allah swt yang diciptakan dengan sebaik-baik kejadian seperti Firman Allah swt.
“Sesungguhnya Kami ciptakan manusia dengan sebaik-baik kejadian”
Sebagai hubung kait antara ibadah dan kerjaya, perkara yang menghubungkannya adalah kefahaman tentang amanah. Semua ini berkaitan antara kerjaya, ibadah dan amanah. Suka untuk saya perjelaskan di sini bahawa ibadah bukan hanya bermaksud anda beriktikaf sepanjang hari di masjid atau surau, sehingga meninggalkan pekerjaan anda yang anda buat sekarang. Bukan bermaksud tidak lengkap ibadah andai hanya menjalankan amanah. Apa yang anda lakukan sebagai memenuhi amanah orang lain akan membawa kepada penyerahan diri kepada Allah swt.  Sepertimana maksud ISLAM itu sendiri dari segi bahasa Islam bermaksud selamat dan sejahtera dan daripada segi syarak pula Islam bermaksud penyerahan diri dan jiwa kepada Allah swt. Dengan berasa selamat dan sejahtera dalam pekerjaan, anda sudah menepati ciri-ciri ibadah dalam pekerjaan. Anda beribadah kepada Allah dengan cara menyerahkan diri kepada Allah swt begitu juga penyerahan diri kepada pekerjaan yang dilakukan dengan usaha dan tawakal supaya Allah swt memudahkan apa sahaja pekerjaan yang kita lakukan. Ingin penulis berkongsi berkenaan satu ibadah sunat yang mampu semua orang lakukan, iaitu Tahajjud.

5. Jelaskan Definisi Islam, Iman Dan Ihsan !

a. Pengertian Islam
Islam secara etimologi (bahasa) berarti tunduk, patuh, atau berserah diri. Adapun menurut syari’at (terminologi), apabila dimutlakkan berada pada dua pengertian: Pertama: Apabila disebutkan sendiri tanpa diiringi dengan kata iman, maka pengertian Islam mencakup seluruh agama, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), juga seluruh masalah ‘aqidah, ibadah, keyakinan, perkataan dan perbuatan. Jadi pengertian ini menunjukkan bahwa Islam adalah mengakui dengan lisan, meyakini dengan hati dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla atas semua yang telah ditentukan dan ditakdirkan.

b. Pengetian Islam
Tidak diragukan lagi bahwa prinsip agama Islam yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim ada tiga, yaitu; (1) mengenal Allah Azza wa Jalla, (2) mengenal agama Islam beserta dalil-dalilnya [4], dan (3) mengenal Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengenal agama Islam adalah landasan yang kedua dari prinsip agama ini dan padanya terdapat tiga tingkatan, yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Setiap tingkatan mempunyai rukun sebagai berikut:

Tingkatan Pertama: Islam
Islam memiliki lima rukun, yaitu:
1. Bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainka  hanya Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.
2. Menegakkan shalat.
3. Membayar zakat.
4. Puasa di bulan Ramadhan.
5. Menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu menuju ke sana.
6. Jelaskan Hubungan Antara Islam,  Iman Dan Ihsan ?
  • a. Dilaksanakan dengan perbuatan anggota badan
  • b. Dinyatakan dengan lisan
  • c. Diamalkan dengan angota tubuh
  • d. Diyakini dengan hati


7. Jelaskan Keumuman Dan Kekhususan Dari Islam, Iman Danihsan ?
Islam dan iman apabila disebut salah satunya secara terpisah maka yang lain termasuk di dalamnya. Tidak ada perbedaan antara keduanya ketika itu. Tetapi jika disebut keduanya secara bersamaan, maka masing-masing mempunyai pengertian sendiri-sendiri, sebagaimana yang ada dalam hadits Jibril.

Di mana Islam ditafsiri dengan amalan-amalan lahiriah atau amalan-amalan badan seperti shalat dan zakat. Sedangkan iman ditafsiri dengan amalan-amalan hati atau amalan-amalan batin seperti membenarkan dengan lisan, percaya dan ma’rifat kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan seterusnya.

Adapun keumuman dan kekhususan antara ketiganya ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah sebagai berikut: “Ihsan itu lebih umum dari sisi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada iman. Iman itu lebih umum dari segi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada Islam. Ihsan mencakup iman, dan iman mencakup Islam. Para muhsinin lebih khusus daripada mukminin, dan para mukmin lebih khusus dari para muslimin.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 7/10 )

Oleh karena itu para ulama muhaqqiq mengatakan, “Setiap mukmin adalah muslim, karena sesungguhnya siapa yang telah mewujudkan iman dan ia tertancap di dalam sanubarinya maka dia pasti melaksanakan amalan-amalan Islam sebagaimana yang telah disabda-kan baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :

“Ingatalah sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal darah, jika ia baik maka menjadi baiklah jasad itu semuanya, dan jika ia rusak maka rusaklah jasad itu semuanya. Ingatlah, dia itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan tidak setiap muslim itu mukmin, karena bisa jadi imannya sangat lemah, sehingga tidak bisa mewujudkan iman dengan bentuk yang sempurna, tetapi ia tetap menjalankan amalan-amalan Islam, maka menjadilah ia seorang muslim, bukan mukmin yang sempurna imannya. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Orang-orang Arab Badwi itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah: ‘Kami telah tunduk’, …” (Al-Hujurat: 14)

Mereka bukanlah orang munafik secara keseluruhan, demikian menurut yang paling benar dari dua penafsiran yang ada, yakni perkataan Ibnu Abbas dan lainnya, tetapi iman mereka lemah. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “… dan jika kamu ta’at kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; ..” (Al-Hujurat: 14)

Maksudnya tidaklah pahala mereka dikurangi berdasarkan iman yang ada pada diri mereka yang cukup sebagai syarat untuk diterimanya amalam mereka dan diberi balasan pahala. Seandainya mereka tidak memiliki iman, tentu mereka tidak akan diberi pahala apa-apa.*(Syarah Arba’in, Ibnu Rajab, hal. 25-26.)

Maka jelaslah bahwa dien itu bertingkat, dan sebagian tingkatan-nya lebih tinggi dari yang lain. Pertama adalah Islam, kemudian naik lagi menjadi iman, dan yang paling tinggi adalah ihsan.

8. Sebutkan Syarat-Syarat Diterimanya Syahadatain !

1) Ikhlash (jauh dari segala bentuk kesyirikan), dan
2) Sesuai dengan tuntunan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (jauh dari bid’ah).
Dalil tentang syarat yang pertama yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala (terjemahnya): “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Azzumar: 65) dan firman Allah ta’ala (terjemahnya): “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlashkan (memurnikan ketaatan kepada-Nya) dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) juga firman Allah ta’ala (terjemahnya): “Katakanlah (Wahai Nabi): Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya sembahankamu itu adalah sembahan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadat kepada Tuhannya dengan seorangpun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Dalil syarat yang kedua; Allah ta’ala  berfirman: (terjemahnya) “Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31), dan firman Allahta’ala: (terjemahnya) “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (para sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-nisaa’: 115)

Dan dalam Hadits dari ummul mukminin ‘Aaisyah Radhiallaahu ‘anha berkata “RasulullaahShallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa yang mengadakan (hal baru) dalam urusan (agama) kami ini apa yang tidak termasuk darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Al-Bukhaary Rahimahullaahno. 2499, cetakan lain no. 2697)

Dalam Riwayat Muslim Rahimahullaah juga dari ‘AaisyahRadhiallaahu ‘anha berkata: “Rasulullaah Shallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “siapa yang beramal (ibadah) dengan suatu amalan yang tidak ada atasnya perintah kami maka hal itu tertolak”(HR. Muslim Rahimahullaah no. 3243, cetakan lain no 1718).

Kesimpulan: Syarat diterimanya ibadah ada dua: 1) Ikhlash (jauh dari segala bentuk kesyirikan), dan 2) Sesuai dengan tuntunan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (jauh dari bid’ah).

9. Jelaskan Konsekuensi Syahadatain !
Ketahuilah, jika seseorang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat, ada hak dan kewajiban yang harus ia lakukan. Diantara hak yang didapatkannya adalah haramnya darah dan hartanya. Maksudnya, seseorang yang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat tidak boleh untuk diperangi, ditumpahkan darahnya, dan dirampas hartanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka mau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan sholat, serta menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut, mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak islam. Adapun hisab mereka adalah urusan Allah Ta’ala” (HR. Bukhori dan Muslim)

10. Jelaskan Definisi Perserikatan Muhamadiyah !
Secara etimologis nama Muhammadiyah berasal dari kata Muhammad, yaitu Nabi Muhammad saw, dan diberi tambahan ya’ nisbah dan ta’ marbutoh yaitu pengikut Nabi Muhammad saw.  KHA. Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, menegaskan bahwa Muhammadiyah berarti ummat Muhammad, pengikut Nabi Muhammad saw. Dalam anggaran Muhammadiyah disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam amar makruf nahi munkar yang berakidah Islam dan bersumber pada Al Quran dan Hadits yang shahih.

11. Jelaskan Dasar-Dasar Gerakan Muhamadiyah !
Melihat keadaan umat Islam yang demikian itulah, dan didorong oleh pemahaman yang mendalam terhadap surat Ali Imron ayat 104, KHA Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharu dan mengajak umat Islam untuk kembali beribadah, bertauhid dan berakhlak sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul.

Pada mulanya Muhammadiyah, sesuai dengan perkembangan yang berkembang pada awal berdirinya melakukan aktivitas-aktivitas sbb :


  • Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh-pengaruh dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak Islami. Hal ini dilakukan dengan menggiatkan dan meperdalam penyelidikan ilmu agama Islam untuk mendapatkan kemurniannya, memperteguh iman, memperkuat ibadah, dan menggembirakan dakwah amar makruf hani munkar, serta memelihara tempat-tempat ibadah dan wakaf.
  • Mengadakan reformulasi doktrin-doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern.
  • Mengadakan reformasi ajaran-ajaran dan pendidikan Islam dengan memberikan pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah Belanda dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri yang berbeda pola dengan pendidikan pesantren, yakni memberikan pelajaran agama dan umum secara bersama-sama.
  • Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan-serangan dari luar dengan jalan membentengi para pemuda, wanita, pelajar, rakyat biasa dengan membangkitkan kesadaran beragama mereka, dan berusaha untuk memperbaiki kehidupan dan penghidupan mereka sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Rasa persatuan dan ukhuwah Islamiyah di kalangan umat Islam digalang kembali.


12. Jelaskan Kaidah-Kaidah Muhamadiyah Dalam Menetapkan Hukum !

  • Kaidah  dapat memberi arah dan penjelasan mengenai sistem paham kehidupan yang dicandranya berdasarkan paham agama (Islam) yang dianutnya serta bagaimana seluruh warga Muhammadiyah bertindak berdasarkan sistem paham tersebut.
  • dengan kaidah maka Muhammadiyah dapat mengikat solidaritas kolektif (ukhuwah gerakan, dalam makna longgar ashabiyyah sebagaimana konsep Ibn Khaldun), yang berfungsi untuk mempertahankan ikatan ke dalam dan menghadapi tantangan hingga ancaman dari luar.
  • Kaidah Muhammadiyah dapat membentuk karakter orang Muhammadiyah secara kolektif sebagaimana tercantum dalam Kepribadian Muhammadiyah serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, yang mengandung berbagai sifat orang dan pola tindak yang harus dimiliki dan diimplementasikan dalam kehidupan warga Muhammadiyah.
  • melalui kaidah Muhammadiyah menyusun strategi dan langkah-langkah perjuangan sebagaimana Khittah yang selama ini menjadi acuannya, sehingga gerakannya tersistem dan terarah dalam satu sistem gerakan Persyarikatan.
  • dengan kaidah maka Muhammadiyah dapat mengorganisasikan dan memobilisasi anggota, kader, dan pimpinnannya dalam satu sistem gerakan untuk melaksanmakan usaha-usaha dan mencapai tujuan dalam barisan yang kokoh, tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak centang perenang

13. Jelaskan Etika Bermuhamadiyah !

  • Seperangkat nilai dan norma yang bersummber dari ideologi muhammadiyah untuk menjadi pola bagi tingkah laku warga muhammadiyah dalam kehidupan bermuhamadiyah
  • Rumusan yang ersumber dari nila-nilai yang bercermin dalam keyakinan dan cita-cita hidup muhamadiyah,sebagai acuan dasar dalam berfikir, bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan ber-muhamadiyah.
  • Sistem nilaiddan norma yang hidup  dan berkembang dalam muuhammadiyah, yang menciptakan pemahaman yang sama mengenai hakekat muhamadiyah dan bagaimana seharusnya warga muhamadiyah berprilaku.


14. Jelaskan Sistem Nilai Dan Norma Yang Hidup Dan Berkembang Dalam Muhamadiyah !
Pada era reformasi setelah tumbangnya rezim Orde Baru di mana bermunculan berbagai paham keagamaan, lebih-lebih yang bersifat ideologi-politik, Muhammadiyah memandang penting untuk melakukan peneguhan ideologis. Pada tahun 2000 dalam Muktamar ke-44 di Jakarta dirumuskan konsep penting dan mendasar yakni “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah”, yang memiliki persentuhan dengan penguhan pandangan keagamaan dan ke-Muhammadiyah-an di lingkungan Persyarikatan.

Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) adalah seperangkat nilai dan norma Islami yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah untuk menjadi pola bagi tingkahlaku warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. PHIWM merupakan pedoman untuk menjalani kehidupan dalam lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, mengelola amal usaha, berbisnis, mengembangkan profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mengembangkan seni budaya, yang menunjukan prilaku uswah hasanah atau teladan yang baik. Aspek PHIMW ialah: Pandangan Islam tentang Kehidupan, dengan subaspaek:

(1) Islam sebagai ajaran Tuhan yang komprehensif,
(2) Fungsi Manusia menurut Ajaran Islam, dan
(3) Penerapan Ajaran Islam dalam pembentukan Kepribadian PHIMW juga mengandung norma-norma tentang Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah, dengan subaspek pokok kehidupan Islami warga Muhammadiyah dalam:

(1) Kehidupan pribadi,
(2) Kehidupan keluarga,
(3) Kehidupan bermasyarakat,
(4) Kehidupan berorganisasi,
(5) Kehidupan dalam mengelola amal usaha,
(6) Kehidupan dalam berbisnis,
(7) Kehidupan dalam mengembangkan profesi,
(8) Kehidupan dalam Berbangsa dan Bernegara,
(9) Kehidupan dalam melestarikan lingkungan,
(10) Kehidupan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
(11) Kehidupan dalam seni dan budaya.

15.Jelaskan Tentang  Kondisi Muhamadiyah ?
setelah menunaikan ibadah haji pertama dan kedua, Ahmad Dahlan mempunyai obsesi besar tentang masa depan Islam yang mampu membebaskan masyarakat seperti yang diperankan Rasulullah dan para salafiyun. Islam harus dipahami dari sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan al-sunnah. Dalam memahami sumber ajaran Islam, Ahmad Dahlam mengajukan metodologi pemahaman yang rasional-fungsional. Untuk keperluan ini akal pikiran yang bebas dan akal nurani yang jernih serta membiarkan al-Qur’an berbicara sendiri dalam memecahkan problem. Dalam perspektif pemahaman ini, pemahaman terhadap ayat al-Qur’an tidak sekedar pada tataran kognitif, tetspi menuntut aktualisasi nyata sehingga masyarakat dapat merasakan perubahan yang lebih baik. Dengan cara demikian, risalah Islam sebagai hudan dan rahmat li al-‘alamin itu terjadi di dalam masyarakat.

16Jelaskan Fungsi Dari Etika Bermuhamadiyah !

  • Membuat anggota memiik kesetablan dan kepastian sikap dan tingkah laku 
  • Menumbuhkan rasa memiliki organisasi di kalangan anggota dan anggota merasa bangga menjasdi anggota muhamadiyah.
  • Membantu meningkatkan produktifitas dan efektifitas organisasi.
  • Membuat perilaku/anggota organisasi lebih konsisten dan memiliki komitmen yang tiggi terhadap organisasi
  • Meningkatkan integritas, harkat dan martabat anggota organisasi
  • Menjaga, mempertaankan, mengembangkat citra, martabat dan keluhuran organisasi
  • Menjadi alat pengendali perilaku anggota.
  • Menumbuhsuburkan semangat kebersamaan angota.


17. Sebutkan Langkah-Langkah Peneguhan Etika Bermuhamadiyah !

  • Mengintegrasikannya butir-butir etika bermuhamadiyah yang tersebar dalam berbagai pokok pikiran dalam satu rumusan
  • Menigkatkan usaha penanaan dan pemasyarakatan etika bermuhamadiyah dikalangan anggota dan warga persyarakatan melalui berbagai forum dan media.
  • Mengintensifkan  usaha pemahaman dan penghayatan etika bermuhamadiyah dikalangan aggota dan warga muhammadiyah.
  • Melakukan usaha institusionalisasi  etika bermuuhammadiyah dalam arti perlu adanya usaha untuk melestarkan etika bermuhamadiyah dalam kehidupan bermhamadiyah
  • Memberikan sanksi kepada anggota yang dengan sengaja melanggar ketentuan-ketentuan dalam etika bermuhamadiyah


BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Hanya ini makalah tentang Al-Islam yang dapat kami susun. Sebagai akhir kata kami mengucapkan alhamdulillah walaupun kami sadari tentunya masih banyak kekurangan dan kekhilafan di sana-sini baik dari segi susunan bahasa dan sitematikanya.
Semoga apa yang kami susun ini dapat bermanfa’at bagi kita semua dan mendapat ridlo dari Allah SWT. Amin.

2. Saran
a. Sebagai umat Islam yang beriman dan bertaqwa pada-Nya, kita tidak seharusnya melakukan hal-hal yang dilarang Islam seperti bid’ah, khurafat, kita harus menjalankan dan mengamalkan seperti apa yang diajarkan dalam al-Qur’an dan al-hadist.
b. Sebagai umat Islam yang berilmu, kita harus memperdalam ilmu dalam segala bidang seperti IPTEK dan ilmu yang lainnya tanpa membedakan, dengan syarat kita tahu apa yang kita pelajari sesuai dengan ajaran Islam.


Baca Juga Artikel Lainnya Yang Kami Rekomendasikan :
Alhamdullilah Musa meraih Juara Ketiga di Musabaqah Hifzhil Quran Internasional ke 23 di Mesir
Penderitaan tiada akhir di negeri dongeng - naon wae

DAFTAR PUSTAKA

http://muslim.or.id/muslimah/poligami-bukti-keadilan-hukum-allah.html
https://id-id.facebook.com/JesusMencariKebenaran/posts/503784499658374
http://abumujahidah.blogspot.com/2015/02/agama-islam-terdiri-dari-akidah-dan_6.html
https://ms-my.facebook.com/gomyibrah/posts/536631376367932
http://abangdani.wordpress.com/2010/08/07/tingkatan-tingkatan-dinul-islam/
http://elhijrah.blogspot.com/2012/02/metode-yang-benar-dalam-memahami-islam.html#.UnbwS_ml7gg
https://kebenaranhanya1.wordpress.com/2011/05/13/syarat-diterimanya-ibadah/
http://shoutussalam.org/2011/11/makna-dan-konsekuensi-dua-kalimat-syahadat/
http://usmanmatematika.blogspot.com/2013/04/pengertian-dan-tujuan-didirikannya.html
http://muhammadiyahende.blogspot.com/2012_03_01_archive.html
Advertisement

Berkomentarlah Dengan Bijak
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search